Oleh: mogopiyaibonews | Agustus 7, 2008

Studi Kelayakan TPA Sampah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sampah sebagai hasil samping dari berbagai aktifitas/kegiatan dalam kehidupan maniusia maupun sebagai hasil dari suatu proses alamiah, yang sering menimbulkan permasalahan serius diberbagai perkotaan di dunia. Permasalahan sampah di berbagai perkotaan tidak saja mengancam aspek keindahan dan kebersihan kota tersebut, namun lebih jauh akan memberikan dampak negative bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat apabila tidak ditangani secara baik.
Pada suatu perubahan pembangunan suatu kota tentu akan menimbulkan dampak bagi kota tersebut. Dengan bertambahnya populasi penduduk kota maka, sudah tentu akan menghasilkan produk-produk sampah yang memang harus dihadapi oleh kota tersebut. Oleh sebab itu maka, produk sampah yang dihasilkan oleh masyarakat mestinya harus ditangani dengan baik agar tidak menimbulkan masalah diatas masalah.
Untuk mengatasi masalah produk sampah sudah tentu dibutuhkan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) sementara dan selanjutnya akan diangkut dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Yang biasa dan yang akan menjadi masalah dalam pembuangan sampah ke TPA adalah tempat TPA yang kurang baik yang biasa dilakukan di berbagai kota yaitu dengan metode open dumping dan sea dumping sudah tidak layak lagi, karena akhir dari pembuangan samapah ke TPA akan menghasilkan masalah dan bukan menyelesaikan masalah. Sehingga diperlukan TPA yang layak dan dapat dipergunakan diseluruh kota
Lokasi Tempat Pembuangan Akhir sampah yang telah ada terletak di Kampung
Iwaka, Distrik Kualakencana, Kabupaten Mimika. TPA tersebut masih menggunakan metode Open Dumping. Jarak antara TPA sampah dengan daerah pelayanan sekitar 12 km, dengan luas daerah pelayanan kebersihan sampah saat ini sekitar 6.654 Ha (14 kampung), 12 distrik, dengan luas wilayah  20.039 km2 (132 kampung), maka daerah pelayanan kebersihan sampah Kabupaten Mimika mencapai 40 %.

Pada tahun 2005 jumlah penduduk yang terlayani sebesar 160.882 jiwa,
maka jumlah penduduk yang dilayani mencapai 60 %. Dalam perencanaan TPA sampah (5 – 10 tahun) mendatang dari tahun 2015 – 2024, penduduk yang terlayani mencapai hasil yang maksimal (100 %).
Sampah di kota Timika terdiri dari sampah pemukiman, sampah pasar,
sampah pertokoan, sampah fasilitas umum, sampah pendidikan dan sampah sapuan jalan.
Secara instansional, pengelolaan kebersihan kota dilaksanakan oleh sexy
kebersihan, Departemen Pekerjaan Umum Kabupaten Mimika. Sampai saat ini jumlah sampah yang dihasilkan di kota Timika mencapai 6.105 ton/tahun atau sekitar 16.726 kg/hari, sedangkan sampah yang terlayani mencapai 11.528 kg/hari atau sekitar 68.92 % dari total sampah yang dihasilkan.
TPA sampah di kota Timika menggunakan metode open dumping, dimana
sampah hanya dibuang tanpa dilakukan penutupan dengan tanah atau tanpa diolah lebih lanjut. Hal ini bila dibiarkan begitu saja, maka akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Gangguan tersebut antara lain, sebagai tempat berkembangnya berbagai faktor penyakit, menimbulkan bau, kotoran dan dapat mencemari air sekitarnya. Oleh karena itu cara ini belum memenuhi syarat TPA, sehingga harus dilakukan perubahan TPA yang sementar adalah Open Dumping ke TPA yang lebih baik lagi yaitu dengan metode Sanitary Landfill agar proses pengolahannya akan yang lebih baik dan terkontro.

1.2. Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Kelayakan Tempat pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kota Timika.
2. Sarana yang dipakai di TPA sampah yang memenuhi persyaratan teknis operasional pengolahan sampah.
3. Bagaimana Pengadaan secara teknis TPA sampah
4. Berapa jumlah pertumbuhan penduduk pada daerah pelayanan persampahan kota Timika untuk tahun 2007 – 2012.

1.3. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang diambil adalah:
1. Studi yang dilakukan yaitu mengenai kelayakan teknis operasional Tempa Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
2. Menghitung laju pertumbuhan penduduk dan kapasitas sampah untuk kelayakan TPA dengan memproyeksi 5 – 10 tahun.
3. Kapasitas TPA sampah
4. Skema TPA dengan metode Sanitary Landfill.

1.4. Keaslian Penelitian
Penelusuran terhadap berbagai pustaka menunjukan bahwa sudah banyak penelitian
tentang Studi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, tetapi sampai saat ini belum banyak penelitian tentang Studi Kelayakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

1.5. Tujuan Penelitian
Pada penelitian ini tujuan yang akan diharapkan adalah ;
1. Mengetahui sistem pengolahan sampah dan sarana yang mendukung pengelolaan
tersebut di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
2. Mengetahui pertumbuhan penduduk dan produk sampah yang di hasilkan.
1.6. Manfaat Penelitian
1. Sebagai tambahan informasi bagi kelayakan TPA sampah dalam membuat tempat
pembuangan akhir sampah.
2. Sebagai informasi bagi pengelolaan dan pengolahan sampah di kota Timika.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sampah
Menurut Soedarso (1985) sampah adalah bahan buangan sebagai akibat aktifitas manusia dan binatang yang merupakan bahan yang sudah tidak digunakan lagi, sehingga dibuang sebagai barabg yang tidak berguna lagi.
Menurut Soewedo Hadiwiyoto (1983), sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan, baik karena telah diambil bagian utamanya, karena pengolahan atau karena sudah tidak ada manfaatnya lagi. Bila ditinjau dari segi sosial ekonomi tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau mengganggu kelestarian lingkungan.
Menurut Benny Cholib (1986), sampah merupakan bahan buangan padat sebagai hasil samping berbagai aktifitas dalam kehidupan manusia ataupun sebagai hasil dari peristiwa alam.
Menurut Tjokrokusumo (1999), sampah merupakan benda buangan padat sebagai hasil samping dari kegiatan manusia atau makhluk hidup lain, menyusul produk dari peristiwa alam.
Menurut Djuli Murtadho dan E. Gumbira Said (1987), limbah berarti suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktifitas manusia, maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi yang negatif. Limbah dikatan mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena penanganan untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar, disamping juga dapat mencemari lingkungan.

2.2. Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah adalah sifat-sifat sampah yang meliputi sifat-sifat fisis,
Kimia dan biologis. Sifat fisis menyangkut persentase berat dari sayuran, kertas, logam, gelas, tekstil, plastik dan berbagai bahan-bahan yang tidak mudah terbakar lainnya. Sifat kimia menyangkut pemeriksaan kimia, PH, kandungan air, bahan organik, karbon, nitrogen, phospor. Sifat biologis menyangkut kandungan mikroorganisme dalam sampah. Kalau ditinjau secara fisis adalah sukar untuk merinci sifat-sifat sampah, terutama sampah yang berbentuk padatan, hal ini dikarenakan sampah padatan selalu tidak homogen. Demikian pula apabila dilakukan peninjauan secara biologis, sedemikian jauh masih sedikit atau boleh dikatakan belum ada publikasi tentang sifat-sifat biologis sampah. Sedangkan hasil-hasil penelitian yang mengungkapkan hasil kimiawi sampah juga masih sedikit.
Untuk sampah padatan sifatnya sangat berfariasi tergantung dari komponen-komponen sampah, misalnya sampah kota di negara berkembang berbeda dengan sampah kota di negara maju. Di negara berkembang, persentase tertinggi komponen sampah adalah sampah sisa makanan dan daun-daunan, sedangkan di negara maju persentasetertinggi adalah sampah kertas. Kebanyakan sampah adalah heterogen yang terdiri dari sisa makanan, kertas, plastik, tekstil, karet, kayu, kaca, kaleng dan logam.
Adapun persentase komponen sampah kota di Indonesia seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.1 Persentase komponen sampah di Indonesia.
Komponen Persentase %
Kertas
Limbah bahan makanan
Gelas
Logam (besi)
Plastik
Kayu
Karet dan Kulir
Kain (serat tekstil)
Logam lainnya (aluminium) 41
21
12
10
5
5
3
2
1
Total 100 %
Sumber : Riesal Atmoko, 2000
Jenis-jenis sampah berdasarkan karakteristiknya (Sudarso, 1985) adalah sebagai berikut :
a. Sisa makanan atau sampah basah (garbage)
Sampah yang termasuk jenis ini adalah sampah basah yang di hasilkan dalam proses pengolahan makanan. Karakteristik dari sampah jenis ini adalah dapat membusuk dan dapat terurai dengan cepat khususnya bila cuaca panas. Sampah jenis ini biasa dihasilkan dari tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar dan sebagainya.
b. Sampah kering (rubbish)
Sampah kering terdiri dari sampah yang dapat terbakar ataupun yang tidak dapat terbakar, yang dihasilkan oleh rumah tangga, kantor-kantor, perdagangan dan sebagainya, tidak termasuk sisa makanan dan benda-benda yang sangat mudah membusuk.

c. Abu dan residu (ashes)
Merupakan benda yang tertinggal dari pembakaran kayu, arang dan lain-lain yang dapat terbakar.
d. Sampah dari bangunan
Sampah akibat penghancuran atau pembanguanan statu gedung.
e. Sampah Khusus
Sampah khusus ádalah sampah yang sulit untuk di klasifikasikan.
f. Sampah pertanian
Yang dimaksud dengan sampah pertanian hádala sampah dari tumbuhan/tanaman atau
sampah dari binatang di daerah pertanian.
g. Sampah berbahaya
Sampah yang berasal dari bahan kimia, biologis dan bahan yang dapat terbakar atau meletus atau yang mengandung radioaktif. Sampah ini harus mendapat perhatian lebih khusus.
h. Sampah pengolahan air minum / air kotor
Sampah ini berupa lumpur dari perusahaan air minum atau pengolahan air kotor.

2.3 Dampak Sampah Terhadap Lingkungan
Proses penimbunan sampah tidak terlepas dari bahan cemaran yang ditimbulkan
dan harus ditangani secara khusus. Bahan cemaran yang terjadi biasanya berbentuk cairan dan gas sebagai hasil dari degradasi sampah, baik secara fisik, kimia maupun biologis. Dengan adanya mikroba, akan terjadi perusakan atau penguraian sampah yang dapat mengeluarkan cairan yang bukan merupakan air murni, tetapi berbagai zat yang terkandung atau tercampur didalamnya, seperti garam-garam mineral, asam organik dan logam berat. Selain itu dapat terjadi akibat hujan, dimana air akan mengalir disela-sela sampah yang pada akhirnya akan berkumpul pada dasar cemaran. Dan akan mengalir ke berbagai tempat yang rendah.
Gas yang timbul selama degradasi sampah adalah Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen (N2), Amoniak (NH3), dan asam-asam organik. Gas-gas ini dapat mengganggu manusia tidak saja karena baunya, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan. (Soewedo, 1983)
Menurut Sudarso (1985), manusia yang hidup di lingkungan tidak akan terhindar oleh adanya sampah yang ada di lingkungan. Secara tidak langsung pengaruh sampah terhadap lingkungan akan berpengaruh pada kehidupan manusia, yaitu :
a. Sampah sebagai faktor penyebab kesehatan.
Dalam hal ini sampah sebagai penyebab timbulnya gangguan kesehatan, seperti adanya bahan-bahan tertentu yang terdapat dalam sampah dan menimbulkan kontak secara langsung.
b. Sampah sebagai faktor yang menimbulkan penyakit.
Sampah yang kurang diperhatikan dapat berfungsi sebagai tempat berkembangnya serangga ataupun binatang mengerat yang dikenal sebagai faktor penyakit menular.
c. Sampah sebagai penyebab pencemaran lingkungan.
Sampah dapat menimbulkan pencemaran udara, air maupun tanah yang secara langsung maupun tidak langsung.
Pengaruh sampah terhadap kesehatan lingkungan, menurut Benny Chotib (1986) adalah :
1. Pengaruh sampah terhadap kesehatan masyarakat
a. Kemungkinan infeksi langsung bagi pekerja maupun pengangkut sampah.
b. Secara tidak langsung dapat merupakan ancaman terhadap kesehatan masyarakat
umum, karena berkembangnya bakteri penyakit.
2. Pengaruh sampah terhadap lingkungan.
a. Estetika
Memberikan kesan buruk yang dapat pula mendatangkan rasa khawatir akan
terganggunya kesehatan akibat sampah yang berserakan.
b. Leachate
Pengotoran terhadap tanah, air permukaan dan air tanah dari air kotor yang berasal
dari sampah atau dari tempat pembuangan.
Adapun komposisi umum cairan yang berasal dari sampah kota seperti pada tabel
dibawah ini :
Tabel 2.2. Komposisi Umum Cairan Dari Sampah Kota.
Parameter Kisaran Satuan
PH
Kekerasan, CaCO3
Alkalinitas, CaCO3
Kalsium
Magnesium
Sodium
Potasium
Ferum (Fe), total
Khlorida
Sulfat
Fosfat
Senyawa Nitrogen Organik
NH3-N
BOD 6 – 6,5
890 – 7.600
730 – 9.500
240 – 2.330
64 – 410
85 / 1.700
28 – 1.700
6,5 – 220
96 – 2.350
84 – 730
0,3 – 29
2,4 – 465
0,22 – 480
21.700 – 30.300 Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Mg / lt
Sumber : Soewedo, 1983
c. Udara
Debu atau bau yang tidak enak dari penimbunan sampah dan hasil pembakaran
sampah yang tidak sempurna.
d. Hazardous Waste
Bahaya yang ditimbulkannya, baik pada waktu pengangkutan maupun pada waktu pembuangannya.
e. Ancaman
Terhadap prasarana lainnya, seperti pengotoran dan pendangkalan saluran air sungai.

f. Logam berat
Dari pembuangan industria, dan dapat meracuni badan air.

2.4. Penggolongan Sampah
Penggolongan sampah ini didasarkan atas beberapa kriteria, yaitu didasarkan atas
asal, komposisi, bentuk, lokasi, proses terjadinya, sifat dan jenisnya. Penggolongan sampah sangat penting untuk mengetahui macam dan sifat sampah sebagai dasar dalam penanganan dan pemanfaatan sampah. Menurut Soewedo Hadiwiyoto (1983), ada beberapa macam penggolongan sampa :
1. Penggolongan sampah berdasarkan asalnya
a. Sampah dari hasil kegiatan rumah tangga, termasuk didalamnya sampah dari asrama,
RS, hotel dan kantor.
b. Sampah dari hasil kegiatan industria / pabrik.
c. Sampah dari hasil kegiatan pertanian. Kegiatan ini meliputi perkebunan, kehutanan,
perikanan dan peternakan.
d. Sampah dari hasil kegiatan perdagangan, misalnya sampah pasar dan sampah toko.
e. Sampah dari hasil kegiatan pembangunan.
f. Sampah dari jalan raya.
2. Penggolongan sampah berdasarkan komposisinya.
a. Sampah yang seragam
Sampah ini berasal dari kegiatan industri dan perkantoran. Sampah dari kantor sering
hanya terdiri dari kertas, karton, kertas karbon dan lain-lain yang masih dapat
digolongkan dalam golongan sampah yang seragam.
b. Sampah yang tidak seragam (campuran), misalnya sampah yang berasal dari pasar
atau dari tempat-tempat umum.
3. Penggolongan sampah berdasarkan bentuknya.
a. Sampah berbentuk padat (solid), misalnya daun, kertas, kaleng, plastik dan
sebagainya.
b. Sampah berbentuk cair, misalnya bekas air pencuci, bahan cairan yang tumpah,
limbah industri yang berbentuk dan lain-lain.
c. Sampah berbentuk gas, misalnya karbon dioksida, amoniak dan gas-gas lainnya.
4. Penggolongan sampah berdasarkan lokasinya.
a. Sampah kota (urban), yaitu sampah yang terkumpul di kota-kota besar.
b. Sampah daerah, yaitu sampah yang terkumpul di daerah-daerah diluar perkotaan,
misalnya di desa, daerah pemukiman dan daerah pantai.
5. Penggolongan sampah berdasarkan proses terjadinya
a. Sampah alami, ialah sampah yang terjadi karena proses alami, misalnya rontoknya
daun-daunan di pekarangan rumah.
b. Sampah non alami, ialah sampah yang terjadi karena kegiatan manusia.
6. Penggolongan sampah berdasarkan sifatnya
a. Sampah organik, adalah sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik, dan
tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Bahan-bahan ini mudah di
degradasi oleh mikroorganisme, misalnya daun-daunan, kayu, kertas, karton, sisa-sisa
makanan, sayuran dan buah-buahan.
b. Sampah anorganik, adalah sampah yang tidak tersusun oleh senyawa-senyawa
organik seperti kaleng, plastik, besi, logam, gelas, dan lain-lain.
7. Penggolongan sampah berdasarkan jenisnya.
a. Sampah makanan
b. sampah kebun/pekarangan
c. sampah kertas
d. Sampah plastik, karet dan kulit
e. Sampah kain
f. Sampah kayu
g. Sampah logam
h. Sampah gelas dan keramik
i. Sampah berupa abu dan debu
Karakteristik sampah di kota Timika umumnya seperti di kota-kota kecil di indonesia, sebagian terdiri dari sampah organik yang mudah terdekomposisi.
Menurut Riesal Atmoko (2000), perbandingan komposisi bahan buangan organik dan buangan anorganik adalah 70 % : 30 %. Makin banyak bahan buangan organik bila dibandingkan dengan bahan buangan anorganik, maka akan semakin baik bila dipandang dari segi pelestarian lingkunagan, karena bahan organik lebih muda di degradasi dan menyatu kembali dengan lingkungan alam.

2.5. Pengelolaan Sampah Di Kota Timika
Pengelolaan sampah di kota Timika pada saat ini pembuangannya pada Tempat pembuangan Akhir (TPA) sampah. TPA yang ada terletak di Kampung Iwaka Distrik Kualakencana dengan luas sekitar 625 m2 atau 0,0625 Ha. TPA tersebut terletak di daerah gunung dengan jarak dari rumah penduduk sekitar 1-1,5 km, dan jarat dari kota sekitar 12 km.
Sistem yang digunakan saat ini adalah penumpukan di lembah bukit (open dump), dimana sampah dibuang begitu saja di lembah gunung tanpa adanya suatu perlakukan apapun. Hal ini dapat menimbulkan banyak masalah pencemaran, diantaranya bau, kotor, sumber penyakit dan dapat mencemari air.
Timbulan sampah yang dapat dilayani sistem pelayanan persampahan adalah sampah domestik, yaitu sampah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, dan sampah non domestik, yaitu sampah yang berasal dari pasar, pertokoan, perkantoran industri dan lain-lain.
Besar timbulan sampah yang dihasilkan adalah berasal dari rumah tangga (50 %), sampah pasar (25 %), sampah perdagangan (15 %) dan lain-lain (10 %).
Penanganan sampah di kota Timika dilakukan dengan cara pengangkutan, dimana sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga dan sebagainya diangkut dengan menggunakan tenaga manusia dan dibuang pada tempat-tempat yang sudah ditentukan. Sistem pengumpulannya dengan menggunakan bak-bak sampah/tong sampah yang sudah disiapkan. Pada tahun 2007 jumlah bak sampah di Timika sebanyak 42 buah, dimana setiap kelurahan mempunyai tiga tong sampah. Selanjutnya sampah tersebut di simpan selama beberapa hari dalam tong sampah, dan setelah itu diangkut menuju ke TPA dengan menggunakan truk-truk sampah. Jumlah tenaga penyapu saat ini (dalam kota) berjumlah 10 orang dan jumlah truk sampah yang digunakan sebanyak 2 unit dengan kapasitas 8 m3/unik.

2.6. Pengolahan Sampah Di Kota Timika.
Sebelum sampah dibuang atau ditimbun, dilakukan pemisahan oleh petugas. Hal ini dilakukan guna memisahkan sampah yang masih dapat digunakan lagi dan sampah yang harus dibuang. Pengolahan yang dilakukan saat ini adalah dengan cara pembakaran sampah. Hal ini dikarenakan belum adanya alat pemadat sampah. Tujuan pembakaran sampah ada dua, yaitu supaya tidak banyak lalat dan serangga lainnya serta supaya plastik-plastik tidak beterbangan ke tempat lain karena adanya angin.

2.7 Metode Pembuangan Akhir
Beberapa metode pembuangan akhir sampah di TPA yang sering digunakan antara lain adalah :

a). Sistem Open Dumping
Sistem open dumping merupakan sistem pembuangan sampah yang tertua dan paling sederhana yang sering dipakai di Negara berkembang. Metode ini pada prinsipnya hanya membuang sampah dan menumpuk begitu saja tanpa ada penutupan. Metode penumpukan ini menimbulkan banyak masalah pencemaran diantaranya bau, kotor, mencemari air dan sumber penyakit karena dapat menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti lalat dan tikus. (Murtadho dan Said, 1987)

Sampah Buangan Tahap Pertama

Tahap Kedua
Sampah Yang sudah diratakan Sampah Buangan

Jalan Sampah yang sudah padat Tahap Akhir

Gambar 2.1. Open Dumpng

2.7. Pembuangan Sampah di TPA
Setelah proses pewadahan dan pengumpulan, sampah tersebut perlu diangkut ke tempat yang lebih aman serta tidak mengganggu lingkungan. Pembuangan sampah di TPA dapat dilakukan sebelum proses pengolahan maupun setelah proses pengolahan. Tujuan dilakukan pembuangan sampah akhir adalah untuk memusnahkan sampah domestik.atau diklasifikasikan sejenis ke suatu TPA agar dapat dimusnahkan dengan aman, jauh dari pemukiman serta tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan.
Tempat pembuangan akhir sampah dapat dilakukan di darat (landfilling) maupun dilaut (ocean dumping), tetapi tempat tersebut harus aman dan tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. (Soewedo, 1983).
2.7.1 Sistem Open Dumping
Sistem open dumping merupakan sistem pembuangan sampah yang tertua dan paling sederhana yang sering dipakai di Negara berkembang. Metode ini pada prinsipnya hanya membuang sampah dan menumpuk begitu saja tanpa ada penutupan. Metode penumpukan ini menimbulkan banyak masalah pencemaran diantaranya bau, kotor, mencemari air dan sumber penyakit karena dapat menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti lalat dan tikus. (Murtadho dan Said, 1987)

Sampah Buangan Tahap Pertama

Tahap Kedua
Sampah Yang sudah diratakan Sampah Buangan

Jalan Sampah yang sudah padat Tahap Akhir

Gambar 2.2. Open Dumping

2.7.2. Sistem Controlled Landfill
Sistem Pengolahan Sampah Contrlled Landfill ini merupakan kombinasi antara
sistem open dumping dan sistem sanitary landfill, namun dalam metode controlled landfill penerapannya lebih mendekati metode sanitary landfill.

Sampah Buangan Tahap Pertama

Tahap Kedua
Tanah penutup Sampah Buangan

Sampah yang
sudah padat

Saluran Masuk Lokasi Kepadatan Sampah yang padat Tahap Akhir
Tepi Jalan TPA tanah penutup

Gambar 2.3. Controlled Landfill
2.7.3. Sistem Landfill
Sistem pembuangan dan pemusnahan sampah dengan sistem landfill merupakan
sistem yang paling sesuai untuk digunakan didaerah perkotaan, dimana jumlah dan fluktuasi sampah didaerah perkotaan cukup basar. Sistem landfill adalah menempatkan sampah pada suatu tempat yang rendah atau didalam tanah, kemudian menimbunnya. (Soewedo, 1983).
Ada tiga metode pembuangan sampah di TPA yaitu, metode open dumping, metode controlled landfill dan metode sanitary landfill. Metode open dumping yaitu sampah dibuang begitu saja pada suatu tempat tanpa ada proses. Untuk metode controlled landfill dan metode sanitary landfill pada prinsipnya relatif sama, yang membedakan hanya frekuensi penutupan lapisan sampah dengan tanah penutup.
Metode controlled landfill adalah menimbun sampah pada daerah yang cekung atau untuk mempertinggi daerah tersebut sampai pada ketinggian yang dikehendaki, atau bisa dengan penggalian tanah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian tumpukan sampah ditimbun atau ditutup dengan lapisan tanah setelah TPA penuh atau setiap periode tertentu (7 hari/sebulan sekali) dan dilakukan pemadatan dengan alat berat. (Anonim, 1994).
Metode ini merupakan suatu metode yang lebih baik dari pada metode open dumping, karena merupakan metode open dumping yang ditingkatkan. Dimana sampah yang dibuang ke tempat pembuangan mengalami perlakuan yang lebih baik.
2.7.4. Metode Sanitary Landfill
Metode sanitary landfill merupakan salah satu metode terkontrol dalam
pembuangan limbah padat. Prinsip metode ini adalah membuang dan menumpuk sampah kesuatu lokasi berlegok, memadatkan sampah tersebut kemudian menutupnya dengan tanah. (Djuli Murtadho, E. Gumbira Said, 1987)
Sistem sanitary landfill merupakan suatu cara pembuangan atau pemusnahan sampah yang dilakukan dengan meratakan dan memadatkan sampah yang dibuang serta menutupnya dengan lapisan tanah setiap akhir hari operasi. Sehingga setelah operasi berakhir tidak terlihat adanya timbunan sampah dan akan meniadakan kekurangan yang ada pada sistem open dumping yang ditingkatkan. (Anonim, 1990)
Beberapa metode dalam proses sanitary landfill (Soewedo, 1983)
1. Metode Parit (trench method)
Metode ini pada prinsipnya menggunakan lobang memanjang berupa parit dengan lebar antara 20 – 30 kaki atau minimum 2 kali lebar peralatan pemadat, dengan kedalaman sekitar 4,5 m. Setelah penuh kemudian dipadatkan dan ditutup dengan tanah hasil galian parit disebelah parit yang telahditutup. Dasar parit mempunyai kemiringan kesatu arah dan sekeliling parit dibuatkan saluran drainaseuntuk air hujan dan tanah galian dapat digunakan sebagai tanggul sementara.
2. Metode Lapangan (area method)
Metode ini mempunyai prinsip menggunakan suatu pelataran yang cekung menandai sebagai tempat pembuangan sampah, tanpa membuat lubang buatan seperti pada metode parit. Setelah penuh secara bertahap dilakukan penutupan dengan tanah.
3. Metode Lereng (ramp method)
Metode ini sangat baik untuk lokasi yang sedikit miring. Kadang-kadang dilakukan penggalian tanah diatasnya untuk mendapatkan tanah penimbun sampah. Begitu seterusnya hingga sampai puncak lereng.
4. Metode Dataran Rendah (low-land method)
Metode ini mempunyai prinsip menggunakan dataran yang rendah atau cekung ke bawah sebagai tempat pembuangan sampah dan tanpa dilakukan penggalian tanah. Secara bertahap sampah dipadatkan dan ditutup.
5. Metode Jurang (valley method)
Metode ini memanfaatkan lembah atau jurang untuk tempat pembuangan sampah. Secara bertahap sampah dipadatkan dan ditutup dengan tanah. Setelah penuh dilakukan penutupan akhir dengan tanah tebal. Metode ini memiliki keuntungan kapasitas yang besar sehingga dapat digunakan selama bertahun-tahun.

Gambar 2.4 Sanitary Landfill

2.8. Landasan Teori.
Pada proses studi yang dilakukan guna mengetahui kelayakan akan TPA yang ada dan
yang sedang digunakan sebagai akhir dari pembuangan sampah kota. Pada pengelolaan dan pengolahan sampah kota yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten yaitu Dinas Pekerjaan Umum (DPU ) telah berjalan dengan baik. Namun dalam penyediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai sehingga sering menjadi kendala dalam penanganan sampah secara maksimal.
Dengan bertambahnya jumlah penduduk akan mempengaruhi produk sampah per orang per hari sehingga TPA yang ada yaitu secara open dumping akan menghasilkan masalah yang berarti, karena akan dapat mempengaruhi pencemaran lingkungan dan lama-kelamaan akan terpengaruh ke air tanah sehingga logam-logam berat yang mengandung zat kimia dapat terbawa dan dampaknya akan ke masyarakat sekitar TPA dan juga bau yang tak sedap dan lain-lain.
Sehingga dalam menghitung jumlah proyeksi penduduk, dengan menggunakan metode Aritmatik (Anonim, 1994), dengan rumus :

Pn = Po + R.t dimana R=
Ketarangan
Pn = Jumlah penduduk hasil proyeksi pada (n) tahun
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun proyeksi
R = Rata-rata pertumbuhan penduduk (%)
t = Jumlah tahun proyeksi yang direncanakan
Untuk mengetahui volume sampah padat dan tanah penutup dengan metode Sanitary Landfill dapat menggunakan rumus (anonim, 1990).
V= +Cv
Untuk mengetahui kebutuhan lahan Sanitary Landfill dapat menggunakan rumus (anonim, 1990).
Keterangan :
V = Volume sampah padat dan tanah penutup per orang per tahun (m /orang/tahun)
R = Laju generasi sampah per orang per tahun (kg/orang/tahun)
D = Density (kepadatan) sampah belum dipadatkan yang tiba di TPA (kg/m )
P = Prosentase pengurangan volume karena pemadatan dengan alat berat 3 sampai 5
kali lintasan (50 % – 75%)
Cv = Volume tanah penutup (m /orang/tahun)
A = Luas TPA yang diperlukan tiap tahun (m /tahun)
N = Jumlah penduduk yang dilayani (orang)
d = Tinggi atau kedalaman sampah padat dan tanah penutup (m)
Misalnya diasumsikan ratio tanah penutup (padat) berbanding dengan sampah padat = 1 : 4, maka rumus untuk mencari volume sampah padat dan tanah penutup adalah (Anonim, 1990) :
V=1,25
R = Laju generasi sampah per orang per tahun
= 0,41 x 365 kg/orang/tahun
= 149,6 atau = 150 kg/orang/tahun
Untuk mengetahui densitas atau kepadatan sampah menggunakan rumus :
D=
Pengurangan volume setelah pemadatan = 60%
Kedalaman lahan yang direencanakan untuk Sanitary landfill dengan metode trench method atau metode parit adalah 4,5 m.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini lokasinya di Kampung Iwaka, Distrik
Kualakencana, Kabupaten Mimika Propinsi Papua.

3.2. Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini obyek yang diteliti adalah :
1. Kelayakan TPA di Kabupaten Mimika
2. Timbulan sampah yang dihasilkan Di Kabupaten Mimika
3. Sistem pengelolaan sampah yang dilakukan.

3.3. Waktu Penelitian
Waktu Penelitian Mei – Desember terhitung dari mulainya pengajuan judul tesis
disetujui sampai laporan akhir. Seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.1. Jadwal Penelitian
No. Uraian Keg. Mei Juni Juli Agst Sep Okt Nov Des
1. Persiapan
2. Pengajuan Judul
3. Konsultasi Proposal
4. Survey Lapangan
5. Pengambilan Data
6. Analisis Data
7. Laporan akhir

3.4. Variabel Yang Diteliti
Variabel yang diteiti antara lain :
1. Variabel Bebas (independent variable)
a. Jumlah penduduk kota Timika
b. Volume sampah yang dihasilkan
c. Teknis operasional Pengelolaan dan Pengolahan TPA sampah
2. Variabel Terikat (dependent veriable)
Metode Pengolahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Kapasitas Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kota Timika.

3.5. Metode Penelitian
Langkah-langkah yang diambil dalam rangka studi kelayakan TPA sampah di
Kabupaten Mimika meliputi :
a. Wawancara
Hal ini dilakukan dengan pejabat Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Mimika dan instansi lain yang terkait untuk mendapatkan data sekunder dan beberapa keterangan yang diperlukan dalam penelitian ini.
b. Observasi
Metode ini dilakukan guna mendapatkan semua jenis kegiatan yang berhubungan dengan data primer yang berupa, volume/tingkat timbulan sampah, teknis operasional pada TPA yang telah ada, existing TPA, alat yang mendukung proses operasionalnya.
c. Dokumentasi
Cara ini dilakukan guna mendapatkan data sekunder dengan mempelajari buku-buku lapangan, arsip-arsip dan catatan sebagai bahan penyusun data sekunder tersebut.

3.6. Cara Pengumpulan Data
Dalam melakukan penelitian ini, cara yang digunakan untuk mengumpulkan data
melalui saluran administrasi di Kantor DPU dan atau Instansi yang terkait. Jenis data fisik diantaranya mengenai kondisi fisik kota dan buku-buku petunjuk yang berkaitan dengan persampahan yang ada di Kabupaten Mimika, cara yang digunakan meliputi :
1. Sistem pembuangan sampah
2. Teknik pengolahan sampah
3. Kondisi TPA yang telah ada
4. Luas area TPA
5. Proyeksi jumlah penduduk
6. Keadaan Penduduk (demografi)
7. Keadaan geografi, topografi, iklim dan hidrologi
8. Pembagian wilayah administrasi.

Gambar 2.5. Proses awal pengangkutan sampah sampai ke TPA

Gambar 2.6 TPA Sanitary Landfill Tampak Samping

Tanah asal

Sel yg sdh sempurna
Tanah penutup akhir yg tlh
sempurna
Penutup harian
Gambar 2.7 Sanitary Landfill
3.7. Analisis Data
Pada studi kelayakan TPA diharapkan akan mendapatkan hasil yang baik mulai dari operasional teknis di TPA yang ada, dapat mengantisipasi laju dari produk sampah kota terhadap pembuangan sampah di TPA yang disebabkan, dengan bertambahnya jumlah penduduk kota. Sehingga diharapkan pemerintah dapat melakukan pengadaan sarana dan prasarana yang lebih baik dan memadai. Sehingga tidak menyulitkan pihak teknisi dalam menangani permasalahan baik di TPA maupun dalam proses Pengelolaan maupun pengolahan sampah di TPA.
Dan Proses pengolahan TPA yang masih menggunakan open dumping sudah seharusnya menggunakan sanitary landfill, agar sampah yang diolah tidak dibuang dengan percuma tetapi dapat memberikan manfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1990, Teknologi Persampahan, Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ”Yayasan
Lingkungan Hidup” Yogyakarta.
Soewedo Hadiwiyoto, 1983, Penanganan Dan Pemanfaatan Sampah, Yayasan Idayu,
Jakarta.
Benny Chatib, 1986, Pengelolaan Buangan Padat, Departemen Teknik Lingkungan, ITB,
Bandung.
Djuli Murtadho & Gumbira Sa’id, E.1988, Penanganan Dan PemanfaatanLimbah Padat,
edisi pertama, cetakan pertama, Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Tjokrokusumo, 1998, Pengantar Enginering Lingkungan, Sekolah Tinggi Teknik
Lingkungan ”Yayasan Lingkungan Hidup” Yogyakarta
Soedarso, 1985, Pembuangan Sampah, Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga
Sanitasi Pusat, Surabaya.
Sri Sulasih, 1996, Pengelolaan Sampah Di Kota Purwodadi Kabupaten Grobogan,
Sekolah Tinggi teknik Lingkungan ”Yayasan Lingkungan Hidup”, Yogyakarta.
Wardana, W.A., 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Edisi Pertama, Cetakan
Pertama, Andi Offset, Yogyakarta.
Sungudi, F.S., 1996, ”Penanganan Sampah Padat Kota Kabupaten Banjarnegara”,
Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta.
Arif Rugianto, 1990, ”Perencanaan Pembuangan Akhir Sampah Padat Kota Brebes”,
STTL ”YLH” Yogyakarta.
Agus Setiadi, R., 1997, ”Penanganan Sampah Pasar Sudagaran Banyumas di Kabupaten
DATI II Banyumas”, STTL ”YLH” Yogyakarta.
Kuswardani, .N.W., 1997, ”Pengelolaan Sampah Pemukiman Kota Rembang Kabupaten
Rembang”, STTL ”YLH” Yogyakarta.
Tjokrokusumo, 1999, Pengantar Engineering Lingkungan Jilid 3, Edisi Pertama, Cetakan
Pertama, Andi Offset, Yogyakarta.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: